Tingkatkan Budaya Literasi Kritis, HISKI Komisariat Sumsel dan UNSRI Gelar Bedah Buku
TRANS SUMSEL – Himpunan Sarjana – Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Sumsel bekerja sama dengan Universitas Sriwijaya (UNSRI) menggelar Bedah Buku dengan tema “Membaca Dunia, Menulis Makna: Bedah Buku sebagai Jendela Literasi Kritis,” pada Jumat 29 Agustus 2025, bertempat di Aula Prof. Djuaini Mukti Gedung UPT Bahasa, Kampus UNSRI Bukit Besar Palembang.
Kegiatan ini dibuka langsung oleh Prof. Dr. Mulyadi Eko Purnomo, M. Pd., sebagai perwakilan Dekan FKIP UNSRI Dr. Hartono, M.A.. Dalam pidatonya Prof. Eko menyambut baik kegiatan ini dilaksanakan di UNSRI. “UNSRI dan HISKI merupakan mitra yang terjalin sudah lama. Kegiatan Bedah Buku Sastra ini penting dan bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan dosen untuk giat menulis,” tambahnya.
Ketua Pelaksana Bedah Buku Komunitas Sastra Dr. Yenny Puspita, M.Pd.,mengatakan kegiatan ini bertujuan meningkatkan budaya literasi kritis melalui pembacaan dan diskusi Buku/karya sastra, memberikan ruang apresiasi dan analisis terhadap Buku/karya sastra dan menumbuhkan tradisi bedah buku dalam komunitas sebagai bentuk pembelajaran bersama. “Kegiatan hari ini diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari penggiat sastra, dosen, dan mahasiswa dari berbagai universitas di Sumsel. Pada kesempatan ini kami akan membedah novel yang berjudul Ketika Iman Dikhianati Karya Dr. Haryadi, M.Pd., dengan menghadirkan narasumber/pembedah buku yang berkompeten yakni Dr. Izzah Zen Syukri, M.Pd. (Akademisi Sastra dari Universitas Sriwijaya) dan Muhammad Nasir, M.Pd. (Ketua Dewan Kesenian Palembang),“ ungkapnya.
Ketua HISKI Komisariat Sumsel, Ernalida, S.Pd., M.Hum., Ph.D., menyatakan pada kegiatan bedah buku/sastra ini, mengajak mahasiswa dan dosen untuk tidak hanya membaca buku secara tekstual, tetapi juga memahami pesan-pesan sosial, budaya, dan humanistik yang tersirat dalam karya sastra. Kegiatan ini juga mendorong keterlibatan aktif komunitas dalam mengembangkan budaya baca dan diskusi secara lebih reflektif. Ia menjelaskan pada bulan Agustus ini HISKI Sumsel banyak menggelar kegiatan secara beruntun, dimulai dari kegiatan Bincang Sastra di Universitas Muhammadiyah Palembang pada 23 Agustus lalu, kemudian pada 26 Agustus telah menyelenggarakan kegiatan Belajar Sastra di Universitas Bina Darma, lalu pada 29 Agustus hari ini menggelar acara Bedah Buku di Universitas Sriwijaya dan besok pada 30 Agustus 2025 akan mengadakan kegiatan lomba menulis puisi kearifan lokal di Balai Bahasa Provinsi Sumatra Selatan. “Dengan dukungan dari berbagai pihak, semoga semua acara HISKI berjalan lancar,“ tambahnya.
Sementara itu, untuk kegiatan bedah buku/sastra, Novel Ketika Iman Dikhianati (KID) Karya Dr. Haryadi, M.Pd., mendapatkan tanggapan positif dari berbagai pihak termasuk dari pembicara/pembedah buku. Dr. Izzah Zen Syukri, M.Pd. sebagai Akademisi Sastra UNSRI memberikan apresiasi kepada penulis yang telah berhasil menerbitkan Novel karya pertamanya. “Kita bisa mencontoh hal ini, semua penulis terkenal juga memulai dari bawah/tahap belajar, asalkan konsisten pasti akan dikenal banyak orang,”tambahnya. Hal yang menarik menurut Dr. Izzah Zen Syukri, M.Pd. dari Novel KID ini selain ceritanya bagus juga mengangkat local wisdom seperti naik perahu di Sungai Musi, Rumah Limas, Kampung Kapitan dan Ziarah di Makam Ki Marogan. “Ini bisa dicontoh penulis-penulis di Palembang untuk bisa memunculkan kearifan lokal. Bahkan penulis terkenal seperti Tere Liye dan W.S. Rendra juga pernah menulis karya dengan setting cerita di Palembang/Sumsel,“ tambahnya.
Muhammad Nasir, M.Pd., juga sebagai pembedah buku/ sastra Novel KID Karya Dr. Haryadi, M.Pd., memberikan selamat kepada penulis yang berhasil menerbitkan karya sastra dalam bentuk Novel. “Kekuatan dari Novel ini adalah bahasanya puitis dan emosional, kisah relevan dengan realita, sarat nilai moral dan religius. Saran dari saya adalah dipertajam lagi konfliknya, seperti menemukan kasus perselingkuhan bisa juga melalui tanda-tanda tidak harus secara langsung dan kemas lebih rumit pembuktiannya. Selain itu, penggunaan istilah-istilah atau bahasa Palembang yang tidak tepat juga perlu di perbaiki,” ungkapnya.
Dr. Haryadi, M.Pd., Penulis Novel Ketika Iman Dikhianati menyatakan sangat bersyukur pada Novel karya pertamanya ini dibedah oleh pakar-pakar, praktisi/ahli dan dosen-dosen hebat di Sumsel. “Ini menjadi semangat bagi saya untuk menerbitkan karya berikutnya,“ ungkapnya. Ia menjelaskan cerita pada Novel ini mengakat kisah nyata. “Novel Ketika Iman Dikhianati adalah kisah tentang luka, perjuangan, dan kekuatan untuk memaafkan. Sebuah perjalanan batin yang mengajak kita merenung: seberapa dalam kita mengenal orang-orang yang kita cintai, dan sejauh mana kita mampu bertahan saat iman diuji oleh pengkhianatan,” pungkasnya.
