UNSRI Tembus Peringkat Dunia di Bidang Education: Kontribusi FKIP Dominan, Namun Kinerja Lintas Fakultas Jadi Penentu
Penulis: Dr. Rita inderawati, M.Pd. Wakil Dekan I FKIP UNSRI,
Peneliti Pendidikan Bahasa
TRANS SUMSEL – Indralaya, 23 April 2026— Universitas Sriwijaya (UNSRI) resmi masuk dalam peringkat 601–800 dunia pada bidang Education berdasarkan pemeringkatan Times Higher Education (THE) World University Rankings by Subject 2026. Capaian ini menempatkan UNSRI sebagai salah satu perguruan tinggi Indonesia yang diakui dalam bidang pendidikan di tingkat global.
Secara nasional, posisi ini menempatkan UNSRI sejajar dengan sejumlah universitas lain di Indonesia dalam klaster yang sama, meskipun masih berada di bawah beberapa LPTK unggulan yang telah menembus peringkat 300–500 dunia.
Namun, pembacaan terhadap capaian ini memerlukan analisis yang lebih kritis. Dalam metodologi THE, kategori Education Studies tidak merujuk pada satu fakultas tertentu, melainkan mencakup seluruh aktivitas pendidikan di tingkat universitas—baik dalam bentuk pengajaran, penelitian, maupun publikasi ilmiah lintas disiplin.
Dengan kata lain, capaian ini merupakan hasil kontribusi kolektif dari berbagai fakultas di UNSRI yang menyelenggarakan pendidikan dalam berbagai bidang, mulai dari ilmu sosial, bahasa, teknik, hingga kesehatan.
Dalam konteks ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tetap menjadi leading sector dalam bidang Education. Kontribusinya paling terlihat pada:
1. publikasi di bidang pendidikan (ELT, pedagogi, kurikulum)
2. pengembangan model pembelajaran
3. program profesional seperti PPG
Secara strategis, kontribusi FKIP diperkirakan berada pada kisaran: 50–60% terhadap total performa Education UNSRI Dominasi ini terutama terlihat pada indikator research quality, yang menjadi salah satu kekuatan utama UNSRI dalam pemeringkatan global.
Hal ini juga sejalan dengan data bahwa UNSRI memiliki puluhan ribu publikasi dan sitasi yang berkontribusi pada performa risetnya secara keseluruhan.
Meski demikian, capaian ini tidak dapat dilepaskan dari kontribusi fakultas lain. Dalam metodologi THE, indikator seperti: teaching (lingkungan pembelajaran), research environment, industry engagement justru sangat dipengaruhi oleh kinerja lintas fakultas.
Fakultas seperti: Teknik (engineering education), Kedokteran (medical education), MIPA (science education), dan Ekonomi dan sosial (literacy education) turut menyumbang melalui publikasi dan praktik pembelajaran berbasis disiplin masing-masing.
Secara agregat, kontribusi non-FKIP diperkirakan: 40–50% dari total performa Education. Bahkan pada indikator teaching, kontribusi non-FKIP diperkirakan lebih besar, mengingat jumlah mahasiswa dan aktivitas pembelajaran terbesar berada di luar FKIP.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa kekuatan utama UNSRI terletak pada kualitas riset, sementara indikator seperti teaching dan research environment masih relatif rendah. Kondisi ini mencerminkan fenomena yang cukup umum di banyak perguruan tinggi berkembang: kemampuan menghasilkan publikasi sudah meningkat, tetapi sistem pembelajaran dan ekosistem akademik belum sepenuhnya optimal.
Dengan jumlah mahasiswa yang mencapai lebih dari 42 ribu orang, tantangan dalam menjaga kualitas pembelajaran menjadi semakin kompleks dan memerlukan pendekatan sistemik lintas fakultas.
Dalam konteks ini, FKIP memiliki posisi strategis tidak hanya sebagai kontributor utama, tetapi juga sebagai: penggerak inovasi pembelajaran, pusat pengembangan pedagogi, dan model praktik terbaik melalui program seperti PPG. Namun, untuk mendorong UNSRI naik ke peringkat yang lebih tinggi (Top 500 dunia), diperlukan pendekatan yang lebih terintegrasi. Artinya, FKIP harus memperkuat kualitas pedagogi dan teaching innovation. Fakultas lain meningkatkan integrasi pendidikan dalam riset dan praktik. Universitas membangun ekosistem akademik yang lebih kuat.
Masuknya UNSRI dalam peringkat 601–800 dunia di bidang Education bukan hanya prestasi satu fakultas, tetapi merupakan hasil dari kolaborasi institusional lintas disiplin. Namun, capaian ini juga menjadi refleksi bahwa FKIP unggul dalam aspek akademik pendidikan
Non-FKIP berperan besar dalam menopang sistem pembelajaran. Integrasi keduanya menjadi kunci peningkatan peringkat ke depan.
Pada akhirnya, tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan posisi, tetapi bagaimana mengubah pengakuan global ini menjadi kualitas nyata dalam pembelajaran dan dampak pendidikan di masyarakat.
“Peringkat global bukan sekadar angka, tetapi cermin dari sistem. Jika riset sudah kuat, maka langkah berikutnya adalah memastikan bahwa kualitas pembelajaran di ruang kelas mampu menyamai capaian tersebut.”
