Mahasiswa Jadi Garda Depan Kampus Aman: UNSRI Tetapkan Duta Anti Kekerasan 2026
TRANS SUMSEL – Komitmen Universitas Sriwijaya (UNSRI) dalam membangun lingkungan akademik yang aman, inklusif, dan berkeadilan kembali ditegaskan melalui Pemilihan Duta Anti Kekerasan Universitas Sriwijaya Tahun 2026. Kegiatan ini digelar di Aula Fakultas Ekonomi UNSRI Kampus Indralaya dan melibatkan mahasiswa lintas fakultas sebagai aktor utama perubahan.
Acara dibuka secara daring oleh Wakil Rektor III UNSRI, Prof. Dr. dr. Radiyati Umi Partan, SpPD-KR, M.Kes., yang menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam upaya pencegahan dan penanganan berbagai bentuk kekerasan di perguruan tinggi. Menurutnya, kampus harus menjadi ruang aman bagi seluruh sivitas akademika, tanpa pengecualian.
Dalam sambutannya, Prof. Radiyati mengajak mahasiswa untuk berani bersuara dan menolak segala bentuk kekerasan. Ia juga menyampaikan dukungan penuh terhadap keberadaan Duta Anti Kekerasan sebagai mitra strategis universitas dalam membangun budaya saling menghormati. Ia berharap peran tersebut menjadi ladang pengabdian dan kontribusi nyata yang bernilai sosial dan kemanusiaan.
Rangkaian kegiatan diisi dengan sesi edukatif yang menghadirkan Iptu Dr. Try Nensy Nirmalasary, S.H., Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak serta TPPO Polres Kabupaten Ogan Ilir, yang mengulas aspek hukum, mekanisme pelaporan, serta perlindungan bagi korban kekerasan. Perspektif advokasi dan komunikasi strategis disampaikan oleh Muhammad Cholil Munadi, S.Psi., M.K.M., anggota Satgas PPKPT UNSRI, yang menekankan pentingnya empati, pendampingan, dan keberpihakan pada korban.
Nuansa reflektif semakin terasa melalui penampilan monolog oleh James Andrew, mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional FISIP UNSRI, yang menyuarakan pengalaman, luka, dan harapan korban kekerasan, sekaligus mengajak audiens membangun kesadaran kolektif.
Puncak kegiatan ditandai dengan penjurian final Duta Anti Kekerasan UNSRI 2026, yang dinilai oleh dewan juri lintas keahlian, terdiri dari akademisi UNSRI serta perwakilan pemerintah daerah. Dewan juri menilai kapasitas finalis dalam aspek pemahaman isu, kemampuan advokasi, empati sosial, serta potensi peran nyata di lingkungan kampus.
Hasil penilaian menetapkan Selamat Riadi (FKM) dan Khanza Muthia Azzahra (FK) sebagai Duta Anti Kekerasan Universitas Sriwijaya 2026. Sementara itu, kategori khusus diberikan kepada mahasiswa lain yang menunjukkan keunggulan di bidang advokasi, kreativitas, inovasi, serta fokus isu tertentu seperti kekerasan seksual, perundungan, diskriminasi, dan kekerasan psikis. Sementara itu dua pasang duta FKIP pemenang I dan II tingkat fakultas, mendapat gelar Duta FKIP sepasang, Duta Inovatif, dan Duta Kreatif.
Selain tingkat universitas, UNSRI juga menetapkan Duta Anti Kekerasan di tingkat fakultas, sebagai perpanjangan tangan gerakan kampus aman yang lebih dekat dengan mahasiswa di unit masing-masing.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh pimpinan fakultas, Wakil Dekan, Direktur Direktorat Kemahasiswaan UNSRI, Ketua Satgas PPKPT, serta sejumlah tamu undangan. Melalui pemilihan Duta Anti Kekerasan ini, UNSRI menegaskan bahwa pencegahan kekerasan bukan sekadar kebijakan, melainkan gerakan bersama yang hidup dari kesadaran, keberanian, dan kepedulian sivitas akademika.
